Saat kita mendengar frasa “menghidupkan sunnah”, apa yang pertama kali terlintas di benak kita? Mungkin gambaran tentang memelihara jenggot, mengenakan pakaian tertentu, atau menjalankan ibadah-ibadah sunnah secara personal. Semua itu tentu saja merupakan bagian dari sunnah yang mulia. Namun, ada sebuah arena sunnah yang paling sering terlupakan, padahal di sanalah karakter sejati seorang Muslim ditempa: yaitu sunnah di dalam rumah, dalam interaksi sehari-hari bersama pasangan hidup.
Artikel ini akan mengajak Anda untuk sejenak mengintip ke dalam kehidupan rumah tangga Rasulullah ﷺ yang penuh dengan kehangatan, kemesraan, dan bahkan canda tawa. Tujuannya adalah untuk menemukan kebiasaan-kebiasaan kecil yang beliau praktikkan, yang terlihat sederhana namun memiliki dampak luar biasa. Dengan meneladaninya, kita tidak hanya akan meraih pahala, tetapi juga secara aktif mengundang sakinah dan mawaddah untuk bersemi di dalam rumah kita.
Kemesraan dalam Keseharian: Lebih dari Sekadar Kata Cinta
Cinta Rasulullah ﷺ kepada istri-istrinya bukanlah cinta yang hanya terucap di lisan, melainkan cinta yang terwujud dalam setiap tindakan kecil yang penuh perhatian. Beliau adalah master dalam membuat pasangannya merasa istimewa.
1. Sunnah Berbagi dalam Hal Kecil. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan sebuah kebiasaan yang sangat romantis. Ia berkata, “Aku biasa minum dari sebuah gelas saat aku sedang haid, lalu aku berikan gelas itu kepada Nabi ﷺ, maka beliau meletakkan mulutnya di tempat bekas mulutku, lalu meminumnya.” Dalam riwayat lain disebutkan hal serupa saat memakan daging yang menempel di tulang. Gestur sederhana ini—sengaja meminum atau memakan dari bekas pasangan—adalah sebuah pesan cinta yang sangat mendalam, sebuah pernyataan non-verbal yang mengatakan, “Kita adalah satu.”
Kiat Praktis: Jangan remehkan kekuatan berbagi. Sesekali, minumlah dari gelas yang sama, atau saling suapkan satu gigitan makanan saat sedang makan berdua. Tindakan-tindakan kecil yang menyimbolkan “kebersamaan” dan “kesatuan” ini akan mempererat ikatan hati Anda.
2. Sunnah Panggilan Sayang. Rasulullah ﷺ memiliki panggilan khusus yang mesra untuk ‘Aisyah, yaitu “Humaira” (wahai yang pipinya kemerah-merahan), sebuah panggilan yang menunjukkan kekaguman dan rasa gemas. Panggilan sayang adalah cara sederhana untuk menciptakan sebuah “bahasa rahasia” yang hanya dimengerti oleh Anda berdua, membuat pasangan merasa unik dan istimewa.
Kiat Praktis: Ciptakan panggilan sayang Anda sendiri. Tidak perlu puitis, yang terpenting adalah panggilan itu diucapkan dengan tulus dan memiliki makna khusus bagi Anda berdua.
Canda Tawa dan Permainan: Menjaga Jiwa Tetap Muda
Menjadi pribadi yang shalih dan berwibawa tidak berarti harus menjadi kaku dan selalu serius. Rumah tangga Rasulullah ﷺ adalah bukti bahwa kesalehan dan canda tawa dapat berjalan beriringan dengan indahnya.
3. Sunnah Bermain dan Berlomba. Kisah tentang Rasulullah ﷺ yang berlomba lari dengan ‘Aisyah adalah teladan terbaik tentang bagaimana menjaga jiwa tetap muda dan penuh keceriaan dalam pernikahan. Ini adalah wujud “kencan halal” yang paling sehat dan menyenangkan, membangun kenangan indah sambil berolahraga bersama.
Kiat Praktis: Temukan “permainan” Anda sendiri. Mungkin bukan lomba lari, bisa jadi bermain catur, monopoli, atau bahkan video game bersama. Intinya adalah meluangkan waktu untuk tertawa dan bersenang-senang bersama, melepaskan sejenak beban dan keseriusan hidup.
4. Sunnah Menikmati Hiburan Bersama. Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah menemani ‘Aisyah menonton pertunjukan permainan tombak oleh orang-orang Habasyah. Beliau bahkan melindunginya dengan tubuhnya dan membiarkan ‘Aisyah menyandarkan dagunya di bahu beliau hingga ia merasa puas.
Kiat Praktis: Carilah tontonan atau hiburan halal yang bisa Anda nikmati berdua. Tontonlah sebuah film atau serial yang bagus bersama-sama. Diskusikan isinya. Jadikan ini sebagai sebuah pengalaman bersama, bukan sekadar aktivitas paralel di mana masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri.
Kemitraan Sejati: Ringan Sama Dijinjing, Berat Sama Dipikul
Rasulullah ﷺ adalah seorang pemimpin umat, namun di dalam rumah, beliau adalah seorang partner sejati. Beliau tidak pernah memandang pekerjaan rumah tangga sebagai sesuatu yang merendahkan martabatnya.
5. Sunnah Terlibat dalam Pekerjaan Rumah. Saat ditanya apa yang dilakukan oleh Nabi ﷺ di rumah, ‘Aisyah menjawab bahwa beliau “biasa berada dalam kesibukan membantu pekerjaan keluarganya (fi mihnaati ahlihi).” Riwayat lain merinci bahwa beliau biasa menambal pakaiannya sendiri, memperbaiki sandalnya, dan memerah susu kambingnya. Teladan ini meruntuhkan semua argumen budaya yang menganggap pekerjaan domestik hanya milik kaum wanita.
Kiat Praktis: Bagi para suami, libatkan diri secara proaktif dalam pekerjaan rumah tanpa harus diminta. Bagi para istri, hargai dan puji setiap bantuan yang diberikan suami. Ini akan membangun budaya saling membantu dan meringankan beban.
6. Sunnah Saling Melayani. Sebagaimana suami membantu istri, istri pun menunjukkan cintanya dengan melayani suami. Diceritakan bahwa ‘Aisyah biasa menyisirkan rambut Rasulullah ﷺ. Ini adalah gambaran indah dari pelayanan timbal balik yang penuh kasih sayang.
Kiat Praktis: Carilah cara-cara kecil untuk saling melayani. Mungkin dengan membuatkan teh hangat saat pasangan terlihat lelah, atau menyiapkan pakaian kerjanya untuk esok hari. Pelayanan kecil yang tulus adalah bahasa cinta yang sangat kuat.
Ibadah Berjamaah: Menggapai Surga Sebagai Satu Tim
Kemitraan tertinggi antara suami dan istri adalah kemitraan dalam meraih surga. Rasulullah ﷺ sangat mendorong pasangan untuk saling mendukung dalam ibadah.
7. Sunnah Saling Membangunkan untuk Shalat Malam. Beliau bersabda, “Semoga Allah merahmati seorang suami yang bangun di waktu malam lalu shalat dan ia pun membangunkan istrinya, lalu jika istrinya enggan, ia memercikkan air di wajahnya. Semoga Allah merahmati seorang istri yang bangun di waktu malam lalu shalat dan ia pun membangunkan suaminya, lalu jika suaminya enggan, ia memercikkan air di wajahnya.” (HR. Abu Dawud). Perhatikan, ini adalah anjuran yang penuh kelembutan dan canda, bukan paksaan.
Kiat Praktis: Buatlah sebuah komitmen untuk menjadi “Tim Tahajud”. Mulailah dari yang ringan, mungkin cukup satu malam dalam sepekan. Mendirikan shalat bersama di keheningan malam adalah salah satu cara paling ampuh untuk memperkuat ikatan spiritual Anda berdua dengan Allah dan satu sama lain.
Menghidupkan Sunnah, Menuai Sakinah
Kebiasaan-kebiasaan di atas bukanlah sekadar kumpulan tips atau “resep” pernikahan. Ia adalah jendela kecil yang memperlihatkan kepada kita sebuah rumah tangga yang dipenuhi oleh rahmah (kasih sayang) dalam setiap detilnya. Setiap sunnah kecil yang kita hidupkan adalah laksana sebuah bata yang kita gunakan untuk membangun istana sakinah kita sendiri.
Jangan mencoba melakukan semuanya sekaligus. Pilihlah satu atau dua sunnah dari daftar ini yang paling berkesan bagi Anda, lalu berkomitmenlah bersama pasangan untuk mempraktikkannya mulai pekan ini. Aksi kecil yang konsisten jauh lebih baik daripada semangat besar yang hanya bertahan sesaat.
Saat kita berusaha meneladani akhlak Rasulullah ﷺ di dalam rumah kita, kita tidak hanya sedang mengumpulkan pahala. Kita secara sadar sedang mengundang atmosfer cinta, hormat, dan ketenangan yang mendefinisikan rumah tangga beliau untuk hadir pula di dalam rumah kita, menjadikannya sebuah “Baiti Jannati” yang sesungguhnya.

