Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Trending
    • Merencanakan Keluarga, Menata Masa Depan: Panduan KB dalam Perspektif Syariat dan Medis
    • Menjaga Api Asmara Tetap Menyala: Tips Romantis dan Seksual untuk Pernikahan Jangka Panjang
    • Checklist Persiapan Mental dan Spiritual 3 Bulan Menjelang Akad Nikah
    • Menghadapi Lingkungan ‘Toxic’: Cara Pasutri Menjaga Kesehatan Mental dari Omongan Orang
    • Kesehatan Reproduksi Pria Sering Terlupakan, Ini yang Wajib Diketahui Para Calon Suami
    • Saat Iman Pasangan Sedang Turun: Cara Mengingatkan dan Mendukung, Bukan Menghakimi
    • Jerat Utang dalam Rumah Tangga: Cara Mengelola dan Melunasinya Bersama Pasangan
    • Saat Anak Tantrum atau Membantah: Merespons dengan Sabar dan Ilmu, Bukan dengan Amarah
    Facebook X (Twitter) LinkedIn Pinterest RSS
    Halalkan dia dengan Bismillah
    Leaderboard Ad
    • Home
    • Blog
    • Wedding
    • Download
    • About
    Halalkan dia dengan Bismillah
    Home»Pranikah»Nasehat Bagi yang Sulit Jodoh (Bag. 2)
    Pranikah

    Nasehat Bagi yang Sulit Jodoh (Bag. 2)

    Abu Azzam Al-BanjaryAbu Azzam Al-Banjary1 December 20201 Comment4 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email

    Baca pembahasan sebelumnya Nasehat Bagi yang Sulit Jodoh (Bag. 1)

     

    5. Orang tua itu terkadang perlu dilobi!

    Betapa banyak pemuda-pemudi yang sudah siap menikah namun terhambat orang tuanya yang menetapkan kriteria-kriteria yang memberatkan:

    • harus lulus dulu,
    • harus satu suku,
    • harus dekat-dekat saja,
    • harus PNS,
    • harus kaya, dan lain-lain.

    Maka ketahuilah, orang tua tidak bisa memaksakan semua kehendaknya dalam masalah pernikahan anaknya. Dalam pemilihan calon, wajib atas rida dari anaknya. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda.

    لا تُنكحُ الأيِّمُ حتى تُستأمرَ ، و لا تُنكحُ البكرُ حتى تُستأذنَ ، قيل : و كيف إذْنُها ؟ قال : أنْ تسكتَ

    “Tidak boleh seorang janda dinikahkan sampai ia menyatakan persetujuan dengan lisan, dan tidak boleh seorang perawan dinikahkan sampai ia menyatakan persetujuan.” Seorang sahabat bertanya, “Bagaimana persetujuan seorang perawan?.” Nabi bersabda “Dengan diamnya ketika ditanya.” (HR. Bukhari no.6970, Muslim no.1419).

    Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Maknanya, pernikahan tidak sah hingga mempelai wanita diminta persetujuan lisannya. Berdasarkan sabda Nabi [حتى تُستأمرَ] menunjukkan tidak sahnya pernikahan hingga ia setuju secara lisan. Namun dalam hadis ini bukan berarti tidak disyaratkan adanya wali dalam pernikahan, bahkan justru terdapat isyarat bahwa disyaratkan adanya wali.” (Fathul Baari, 9/192).

     

    Dan tidak semua kriteria-kriteria dari orang tua harus kita taati. Jika itu kriteria yang melanggar syariat atau membahayakan si anaknya, maka tidak wajib ditaati. Dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

    لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

    ”Tidak ada ketaatan di dalam maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang makruf.” (HR Bukhari no. 7257, Muslim no. 1840).

    Perkara yang makruf didefinisikan oleh As Sa’di,

    المعروف: الإحسان والطاعة، وكل ما عرف في الشرع والعقل حسنه

    “Al-ma’ruf artinya perbuatan kebaikan dan perbuatan ketaatan dan semua yang diketahui baiknya oleh syariat dan oleh akal sehat.” (Tafsir As Sa’di, 1/194-196).

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan,

    ويلزم الإنسان طاعة والديه في غير المعصية ، وإن كانا فاسقين … وهذا فيما فيه منفعة لهما ولا ضرر عليه … ؛ لسقوط الفرائض بالضرر . وتحرم الطاعة في المعصية ، ولا طاعة لمخلوق في معصية الخالق

    “Seseorang wajib taat kepada orang tuanya selama bukan dalam perkara maksiat. Walaupun kedua orang tuanya fasik… ini dalam perkara-perkara yang bermanfaat bagi orang tua dan tidak membahayakan diri si anak. Karena semua kewajiban itu gugur jika menimbulkan bahaya. Dan ketaatan itu haram jika dalam perkara maksiat. Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq (Allah).” (Al Akhbar Al ‘Alamiyyah min Al Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah, hal. 170).

    Namun kriteria-kriteria dari orang tua yang memberatkan tersebut, sebisa mungkin dilobi. Caranya:

    • berikan nasehat yang baik pada orang tua,
    • gunakan bahasa yang sopan dan lemah lembut,
    • cari waktu yang tepat,
    • beri hadiah,
    • tunjukkan anda sudah punya rencana matang untuk berumah tangga,
    • coba berkali-kali, dan
    • minta hidayah dari Allah untuk orang tua.

    Adapun kriteria-kriteria dari orang tua yang baik dan tidak memberatkan, maka hendaknya ditaati.

     

    6. Minta bantuan perantara yang shaleh dan dipercaya

    Jika sulit menemukan calon pasangan, maka mintalah bantuan kepada orang lain yang dipercaya untuk mencarikan calon pasangan yang baik. Perantara tersebut bisa:

    • ustazmu atau ustazahmu,
    • temanmu yang shaleh dan dipercaya,
    • karib kerabatmu yang bisa dipercaya,
    • saudara atau keluarga dari calon pasangan, yang bisa dipercaya, dan lain-lain.

    Sebagaimana pernikahan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dengan Khadijah yang diperantarai oleh Nafisah binti Muniyyah dan paman-paman Rasulullah (Rahiqul Makhtum, Syekh Shafiyurahman Al Mubarakfuri, hal 13-15, Asy Syamilah).

     

    7. Berdoa dan istikharah

    Jangan lalai untuk terus memperbanyak doa kepada Allah. Karena Allah-lah yang menentukan jodoh manusia. Dan kesulitan atau kemudahan, itu semua atas kehendak Allah. Dan hanya Allah yang dapat mengangkat semua kesulitan. Allah ta’ala berfirman,

    وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّـهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ

    “jika Allah menimpakan suatu mudarat kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Allah sendiri.” (QS. Al An’am: 17).

    Allah ta’ala berfirman,

    وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّـهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

    “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An Nahl: 53).

    Maka berdoalah kepada Allah, dan yakinlah bahwa Allah akan kabulkan. Allah ta’ala berfirman,

    ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

    “Berdoalah kepada-Ku, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60).

    Ketika sudah ada calon pasangan yang diharapkan, dianjurkan salat istikharah, atau berdoa istikharah walaupun tanpa salat.

    Syekh Abdul Aziz bin Baz mengatakan,“Boleh, dianjurkan untuk melakukan istikharah walaupun tanpa salat istikharah. Jika ia sedang haid atau ia dalam perkara yang butuh segera dilakukan, hendaknya ia istikharah (yaitu, membaca doa istikharah) tanpa melakukan salat. Ini tidak mengapa.” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi no. 20949).

    Semoga yang sampai sekarang masih sulit jodohnya, segera Allah mudahkan, dan semoga Allah beri taufik untuk mendapatkan pasangan yang saleh atau salehah.

     

    Wallahu waliyyu dzalika wal qadiru ‘alaihi.


    sumber: https://muslim.or.id/59458-nasehat-bagi-yang-sulit-jodoh-bag-2.html

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleWanita Dunia Penghuni Surga Lebih Cantik dari Bidadari Surga
    Next Article Rasa Cemburu yang Langka di Zaman Ini
    Avatar photo
    Abu Azzam Al-Banjary
    • Website
    • Facebook
    • X (Twitter)
    • Pinterest
    • Instagram
    • LinkedIn

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

    Related Posts

    Checklist Persiapan Mental dan Spiritual 3 Bulan Menjelang Akad Nikah

    Ketika Cinta Terhalang Restu: Kiat Komunikasi Efektif dengan Orang Tua

    Setelah Ta’aruf, Lalu Apa? Memahami Proses Khitbah (Lamaran) dan Nazhar (Melihat Calon)

    1 Comment

    1. Pingback: Nasehat Bagi yang Sulit Jodoh (Bag. 1) – Halalkan

    Leave A Reply

    • Popular
    • Recent
    1 December 2020

    Nasehat Bagi yang Sulit Jodoh (Bag. 2)

    22 October 2020

    Hukum Bertunangan Sebelum Menikah (Bagian 1)

    24 October 2020

    Hukum Bertunangan Sebelum Menikah (Bagian 2)

    14 December 2023

    Merencanakan Keluarga, Menata Masa Depan: Panduan KB dalam Perspektif Syariat dan Medis

    24 June 2020

    Mahar Nikah yang Paling Bagus

    14 December 2023

    Merencanakan Keluarga, Menata Masa Depan: Panduan KB dalam Perspektif Syariat dan Medis

    13 June 2023

    Menjaga Api Asmara Tetap Menyala: Tips Romantis dan Seksual untuk Pernikahan Jangka Panjang

    13 May 2023

    Checklist Persiapan Mental dan Spiritual 3 Bulan Menjelang Akad Nikah

    15 April 2023

    Menghadapi Lingkungan ‘Toxic’: Cara Pasutri Menjaga Kesehatan Mental dari Omongan Orang

    13 April 2023

    Kesehatan Reproduksi Pria Sering Terlupakan, Ini yang Wajib Diketahui Para Calon Suami

    Latest Galleries
    About
    About

    Neque porro quisquam est qui dolorem ipsum quia dolor sit amet, consectetur. Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry.

    We're social, connect with us:

    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    Categories
    • Blog (11)
    • Finansial (5)
    • Fiqh (8)
    • Interaksi (5)
    • Kesehatan (5)
    • Manajemen (5)
    • Parenting (6)
    • Pasutri (6)
    • Pengembangan Diri (5)
    • Pranikah (9)
    • Psikologi (5)
    Copyright © 2026 Halalkan | Created by Amr Abdul Jabbar.
    • Home
    • Buy Now

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.